Home » » Harga Melonjak, Petani Garam Akhirnya Menikmati "Manisnya" Si Asin

Harga Melonjak, Petani Garam Akhirnya Menikmati "Manisnya" Si Asin

Written By Adinda Maulidya on Kamis, 03 Agustus 2017 | 10:24

Para petani garam mulai merasakan "manisnya" harga garam dalam dua bulan terakhir ini, termasuk petani garam di Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Jateng.
Mereka akhirnya bisa menikmati hasil jerih payah mereka menambak garam. Harga garam di tingkat petani yang sebelumnya di kisaran Rp 350 - Rp 500 per kilogramnya, kini mencapai Rp 3.500 per kilogram atau naik sekitar 1.000 persen.
"Alhamdulillah harganya bagus, Mas. Puluhan tahun buat garam baru kali ini harganya bisa naik sepuluh kali lipat, " kata Tasman (55 ), petani garam Desa Menco, Kecamatan Wedung, Demak, Selasa (1/8/2017).
Taslam menambahkan, satu zak garam ukuran 40 kilogram dulu hanya dihargai Rp 80.000.  Saat ini satu zak garam dibanderol Rp 130.000.
"Kalau dijual per kilogram, ketemunya ya Rp 3.500 itu tadi. Begitu dipanen, garam di sini sudah langsung ada yang beli," ujarnya.
Di ladang garam yang berukuran sekitar 8 x 25 meter,  petani garam rata-rata memanen 50 zak garam atau sekitar 2 ton garam setiap minggunya. Namun karena cuaca yang tidak menentu, petani terpaksa memanen dini garamnya dan hanya mendapatkan hasil panen garam 4 - 5 kuintal saja.
"Idealnya, panen kalau usianya sudah seminggu. Tapi ini baru tiga hari sudah kita panen. Kita kejar kejaran dengan hujan, daripada tidak bisa makan," katanya.
Sementara itu, terkait rencana pemerintah yang akan melakukan impor garam dari luar negeri, baik Taslam maupun petani garam lainnya sepakat menolak kebijakan tersebut karena akan berdampak anjloknya harga garam petani.
"Baru sebentar meraskan harga bagus, kok malah impor garam. Kami tidak setuju ada impor garam," ucap Taslam.
Sementara Farodhi Anggota Komisi B DPRD Demak, Jateng, kebutuhan garam saat ini berkurang, sehingga sah - sah saja ketika pemerintah membuat kebijakan impor garam. Akan tetapi, garam impor tersebut jangan sampai memenuhi pasaran sehingga merusak harga garam petani.
"Kita harus adil, boleh saja impor garam, tapi jangan impor total. Cukup 40 - 50 persen saja impornya, sehingga petani garam masih bisa merasakan manisnya harga garam," katanya.
Selain Desa Menco, desa lain di demak yang memproduksi garam rakyat adalah Desa Babalan, Desa Tedunan, Desa Kedungkarang, Desa Kendalasem, dan Desa Mutih Kulon.
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Support : KUPAS.CO | PT. Telematika Indonusa
Copyright © 2011. KUPAS.CO - All Rights Reserved
Gedung Dewan Pers Lt.5 AWPI Jl. Kebon Sirih No. 32-34 Jakarta Pusat
Telp. (021) 2951 7417 Fax : 021 2120 3425 WA : 0811 175 798 Email : redaksi@kupas.co.id