Home » » Toleransi Umat Beragama di Bali, Sejarawan: Buleleng Barometernya

Toleransi Umat Beragama di Bali, Sejarawan: Buleleng Barometernya

Written By Adinda Maulidya on Selasa, 23 Mei 2017 | 07:26

Sejarawan dan akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, Bali, I Made Pageh, menyatakan Kabupaten Buleleng merupakan barometer kehidupan beragama di Pulau Dewata. Sejak abad 16 nilai-nilai toleransi di Buleleng sudah ada, tepatnya sewaktu  Raja Buleleng, Ki Barak Panji Sakti berkuasa.

Menurut I Made Pageh, sangat jarang ditemukan pergesekan antarumat beragama di kabupaten ujung utara Pulau Dewata ini. "Terlebih karena rasa persaudaraan sudah terpupuk dari nenek moyang masyarakat Buleleng," kata I Made Pageh di Kota Singaraja, Minggu, 21 Mei 2017.

Begitu harmoninya kehidupan antarwarga di Buleleng, sampai ada istilah nyama selam untuk menyebutkan saudara muslim. Ini, kata I Made Pageh, memiliki makna bahwa semua kalangan masyarakat di Buleleng adalah bersaudara.

I Made Pageh menceritakan, sejarah umat muslim di Buleleng berkat ekspansi Panji Sakti ke wilayah Pulau Jawa, yang kemudian mengajak ratusan warga Muslim tinggal dan menetap di Buleleng."Panji Sakti ketika itu tidak menganggap mereka sebagai musuh tetapi sebagai sahabat dan teman guna memperkuat kerajaan dan kekuatan perang," kata I Made Pageh sembari menjelaskan Panji Sakti sebagai pendiri Kerajaan Buleleng memberikan wilayah bernama Pegatepan sebagai basis masyarakat Muslim yang kini dikenal dengan nama Desa Pegayaman.

Roh toleransi di Pulau Dewata, I Mde Pageh melanjutkan, dimulai dari Buleleng baru kemudian menyebar ke daerah lain. "Oleh karena itu siapapun akan sangat mudah merasakan indahnya kebersamaan dan harga menghargai ketika tinggal di Buleleng. Tidak ada istilah harus berbeda dan bermusuhan karena berbeda agama dan keyakinan."

I Made Pageh berharap generasi muda bisa mempertahan nilai-nilai toleransi ini. "Berdasarkan hasil penelitian saya, ada fenomena banyak anak muda yang belajar agama ke luar Bali kemudian ingin mengubah rasa toleransi yang sudah ada. Mereka merasa paling pintar dan paling benar dalam masalah agama. Mereka ingin meghilangkan kebiasaan dari orang tua dan leluhurnya"Hal tersebut perlu mendapatkan perhatian karena sangat berbahaya bagi eksistensi bangsa Indonesia yang mempiunyai falsafah Bhinneka Tunggal Ika. "Selama ini kebinekaan itu berjalan begitu indah," kata I Made Pageh. menjadi kunci dalam mewujudkan kerukunan antarwarga.

Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Support : KUPAS.CO | PT. Telematika Indonusa
Copyright © 2011. KUPAS.CO - All Rights Reserved
Gedung Dewan Pers Lt.5 AWPI Jl. Kebon Sirih No. 32-34 Jakarta Pusat
Telp. (021) 2951 7417 Fax : 021 2120 3425 WA : 0811 175 798 Email : redaksi@kupas.co.id