Home » » Saat keberagaman menjadi ancaman di Indonesia

Saat keberagaman menjadi ancaman di Indonesia

Written By Rizkiyah Amalia on Selasa, 30 Mei 2017 | 04:38



Remaja asal Banyuwangi, Jawa Timur, Afi Nihaya Faradisa yang tulisannya ramai diperbincangkan di media sosial menjadi pembicara Talkshow Kebangsaan bertajuk Saya Pancasila Saya Indonesia yang digelar di auditorium lantai 4 Fisipol UGM, Senin (29/5). Dalam talkshow yang dihadiri oleh ratusan pengunjung ini, Afi menerangkan bahwa keberagaman di Indonesia haruslah menjadi berkah, rahmat dan keuntungan.

Permasalahan keberagaman di Indonesia disampaikan oleh remaja yang baru saja lulus SMA ini untuk menanggapi pertanyaan dari moderator diskusi yaitu Abdul Gaffar Karim. Abdul Gaffar Karim yang merupakan dosen di Fisipol UGM ini menanyakan kepada Afi tentang apa permasalahan utama kebangsaan saat ini.

"Permasalahan kebangsaan kita dewasa ini berdasarkan pada pengamatan saya adalah masalah keberagaman," terang remaja yang memiliki 458.315 orang pengikut di medsos.

Keberagaman, kata Afi yang memiliki nama asli Asa Firda Inayah, merupakan permasalahan fundamental di Indonesia. Sebagai negara yang majemuk, keberagaman di Indonesia merupakan ciptaan dari Tuhan.

Keberagaman, lanjut Afi, seharusnya dijadikan berkah, rahmat dan keuntungan bagi bangsa Indonesia karena tidak semua bangsa diberi karunia seperti itu. Bangsa Indonesia, sambung Afi, harus bisa dewasa dan bijaksana dalam menyikapi keberagaman tersebut.

"Sayang sebagian dari kita tidak bisa dewasa dan bijaksana dalam menyikapi keberagaman. Keberagaman di Indonesia bisa menjadi ancaman jika kita tidak bisa menyikapinya secara benar," terang Afi di depan ratusan peserta talkshow.

Afi menuturkan bahwa sikap yang benar dalam menyikapi keberagaman di Indonesia adalah dengan tidak memaksakan kehendak kepada orang lain. Keberagaman, urai Afi, harus disikapi dengan saling menghargai dan menghormati satu sama lainnya.

"Di Indonesia yang beragam ini, kita tidak bisa menunjuk orang lain kamu Jawa, kamu Kristen. Tuhanmu tidak benar yang benar adalah Tuhan saya. Tidak bisa seperti itu. Kita bebas meyakini. Tidak perlu menunjukkan, menyodorkan apalagi memaksakan kehendak dan kebenaran menurut kita ke orang lain," pungkas Afi.
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Support : KUPAS.CO | PT. Telematika Indonusa
Copyright © 2011. KUPAS.CO - All Rights Reserved
Gedung Dewan Pers Lt.5 AWPI Jl. Kebon Sirih No. 32-34 Jakarta Pusat
Telp. (021) 2951 7417 Fax : 021 2120 3425 WA : 0811 175 798 Email : redaksi@kupas.co.id