Home » » Masuk musim kemarau, ratusan keluarga di Mojokerto sulit dapat air

Masuk musim kemarau, ratusan keluarga di Mojokerto sulit dapat air

Written By Rizkiyah Amalia on Selasa, 30 Mei 2017 | 04:46


Warga Dusun Kunjoro, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Mojokerto, Jawa Timur, mulai kesulitan air. Ini lantaran sumber air di Dusun setempat mengering. Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, warga harus mengambil dari tandon sejauh lima kilometer dari tempat tinggal mereka.

Mujiati (38), salah satu warga Dusun Kunjoro, Desa Kunjorowesi, mengatakan, sejak dua pekan ini warga mulai kesulitan air untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Sumber mata air di Dusun setempat biasanya dimanfaatkan warga, kondisinya mengering. Padahal warga selama ini hanya bisa mengandalkan dari sumber air.

"Warga terpaksa mengambil air bersih untuk memenuhi kebutuhan masak dan minum, dari tendon yang jaraknya sekitar 5 kilometer," kata Mujiati, Senin (29/5).

Dia menuturkan, untuk mendapatkan air bersih dari tendon, warga harus antre dengan warga lainnya. Semakin banyak warga antre mengambil air bersih, maka jatah setiap KK semakin sedikit. Namun, kalau air di tendon habis warga hanya mengandalkan air tadah hujan untuk kebutuhan sehari-hari.

"Kalau yang antre air sedikit, bisa mengambil air dua sampai tiga jeriken, kalau yang antre banyak, hanya bisa mendapat satu jeriken saja. Tapi kalau airnya habis, ya membuat tandon tadah hujan sendiri-sendiri. Biasanya sehari bisa dua kali mengambil air bersih," jelas Mujiati.

Sementara itu, Mistoyo (34), warga lainnya mengatakan, sudah bertahun-tahun tiap musim kemarau warga di Desa Kunjorowesi selalu kesulitan air. Ada delapan Dusun di Desa Kunjorowesi, paling kesulitan air bersih adalah Dusun Kunjoro.

"Ada ratusan kepala keluarga (KK) di delapan Dusun, yang paling parah biasanya Dusun Kunjoro. Tujuh Dusun lainnya, yakni Dusun Sunyo, Dusun Badut, Dusun Kandangan, Dusun Sumber, Dusun Telogo, Dusun Belahan, dan Dusun Putuk, terangnya.

Upaya dilakukan warga selama ini menggunakan tandon di beberapa titik untuk menampung dari sumber air. Namun saat musim kemarau, jumlah air yang ada tidak mampu mencukupi kebutuhan warga. "Sehari paling sedikit warga butuh air sekitar 10 liter atau satu jeriken. Kalau hanya mengandalkan dari tandon, saat puncak musim kemarau tidak cukup untuk kebutuhan warga," terangnya.

Warga berharap, ada bantuan dari intansi terkait untuk membantu kebutuhan air bersih warga. Warga juga minta Pemerintah Daerah segera melakukan upaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih supaya tidak sampai kekeringan.
Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Support : KUPAS.CO | PT. Telematika Indonusa
Copyright © 2011. KUPAS.CO - All Rights Reserved
Gedung Dewan Pers Lt.5 AWPI Jl. Kebon Sirih No. 32-34 Jakarta Pusat
Telp. (021) 2951 7417 Fax : 021 2120 3425 WA : 0811 175 798 Email : redaksi@kupas.co.id