Home » » Fenomena Obesitas di Perkotaan: Pria Kaya dan Wanita Miskin yang Gemuk

Fenomena Obesitas di Perkotaan: Pria Kaya dan Wanita Miskin yang Gemuk

Written By Adinda Maulidya on Kamis, 16 Maret 2017 | 09:30

Obesitas adalah permasalahan nutrisi yang angkanya di seluruh dunia terus naik akibat ketimpangan asupan kalori dengan minimnya aktivitas fisik. Orang dengan obesitas berisiko mengalami berbagai kondisi kesehatan sehingga para pemegang otoritas berlomba-lomba memikirkan cara untuk menghadapinya.

Beberapa negara ada yang menjanjikan hadiah untuk warga yang bisa banyak menurunkan berat badannya. Ada juga negara yang membatasi konsumsi makanan tinggi gula dengan menerapkan pajak. Di Indonesia sendiri belum ada kebijakan khusus untuk menangani masalah obesitas.

Terkait hal tersebut ada studi terbaru dari Pusat Penelitian Makanan dan Nutrisi (SEAMEO-REFCON) melihat pola asupan kalori masyarakat perkotaan Indonesia. Meski obesitas secara umum memang terlihat meningkat namun ada fenomena menarik antara gender dan status ekonomi sosial.

Ir. Helda Khusnun, MSc, PhD, dalam studi Calorie Intake and Physical Study melakukan survei mengumpulkan berbagai data terkait berat badan dan asupan kalori dari 864 orang dewasa di lima kota besar. Hasilnya diketahui pada laki-laki prevalensi kasus obesitas tinggi terjadi pada populasi kelas ekonomi sosial atas mencapai 23,5 persen. Sementara itu untuk wanita keadaan justru terbalik di mana prevalensi obesitas tertinggi dimiliki kelas sosial bawah yang mencapai 44,3 persen.

Mengapa ada perbedaan prevalensi obesitas yang mencolok antara gender? Pria kaya lebih banyak obesitas logikanya karena memiliki lebih banyak kesempatan untuk menumpuk kalori. Namun studi tidak dapat menjelaskan mengapa pada wanita justru kebalikannya.

Helda mengatakan ada beberapa teorinya. Mulai dari karena perbedaan aktivitas fisik, penggunaan kontrasepsi hormon, hingga teori perkembangan.

Dari faktor yang ertama bisa jadi karena tingkat aktivitas fisik perempuan pada kaum kelas menengah ke bawah cenderung sedentary atau minim olahraga. Oleh sebab itu asupan kalorinya jadi lebih mudah tidak seimbang berlebih dari kebutuhan.

Kedua menurut Helda bisa jadi juga karena penggunaan kontrasepsi tertentu. Seperti diketahui metabolisme tubuh bisa dipengaruhi oleh hormon dan penggunaan kontrasepsi diduga berkaitan dengan hal tersebut.

Faktor terakhir ada teori yang disebut developmental origin of health and disease. Pada intinya penyakit atau masalah kesehatan yang dialami para wanita dari kelas ekonomi menengah ke bawah tersebut bisa jadi karena berbagai macam paparan hal yang dialami saat masih anak-anak atau bahkan dalam kandungan.

"Jadi waktu masih dalam kandungan bisa terjadi pemrograman metabolisme di dalam tubuh janin. Bila selama dalam kandungan janin mendapatkan lingkungan misal asupan makanan kurang karena ibunya kurang gizi maka akan ada adaptasi metabolisme. Ketika lahir misalkan orang dari kalangan yang miskin itu jadi lebih sensitif untuk terkena penyakit tak menular termasuk obesitas," kata Helda dalam pemaparan studi di Hotel Manhattan, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (15/3/2017).

"Ada berbagai macam hipotesis yang bisa kita sampaikan. Tapi pola hubungan seperti ini juga ditemukan dalam studi lain dan sampai saat ini kita masih mencari jawabannya apa sih sebenarnya," pungkas Helda.

Share this article :

0 comments:

Posting Komentar

 
Support : KUPAS.CO | PT. Telematika Indonusa
Copyright © 2011. KUPAS.CO - All Rights Reserved
Gedung Dewan Pers Lt.5 AWPI Jl. Kebon Sirih No. 32-34 Jakarta Pusat
Telp. (021) 2951 7417 Fax : 021 2120 3425 WA : 0811 175 798 Email : redaksi@kupas.co.id