Latest Post

INDUSTRIALISASI POLITIK & DEMOKRASI LIBERAL SERTA PUPUSNYA NASIONALISME KEBANGSAAN INDONESIA

Written By KUPAS.TV on Senin, 20 Agustus 2018 | 07:43

OLEH :PRIHANDOYO KUSWANTO
KETUA RUMAH PANCA SILA
Sejak bergulir nya Reformasi dan tumbang nya Orde Baru ,tanpa disadari telah terjadi perubahan perpolitikan dan demokrasi di negeri ini ,perubahan ini membawah arah yang positif disatu sisi juga tidak sdikit unsur negative nya .
Dalam perubahan politik telah terjadi perubahan yang mendasar,politik tidak membawah dan membangun karakter kebangsaan , justru politik menjadi Industrialisasi , hal ini ditandai dengan politik pecitraan yang dibangun oleh setiap insan politik dan elit nya .
Munculnya politik pencitraan ini dibarengi dengan munculnya konsultan-konsultan politik, yang siap memoles apa saja yang diinginkan oleh kandidat , walau dalam sejarahnya sang kandidat berperilaku buruk, seseorang kandidat tidak lagi diperlukan perjuangan dari bawah , tetapi cukup memyediakan uang untuk merubah wajah calon kandidat.
politik pencitraan ini telah di praktekan pertama kali oleh SBY dengan mengunakan Fox Indonesia sebagai konsultan dalam Pilpres tahun 2009 yang lalu dan hasil nya SBY bisa memenangkan pilpres
Ciri-ciri dari Industrialisasi politik dan demokrasi adalah adanya sebuah proses yang diawali dengan merubah image seseorang yang dilakukan konsultan pencitraan , bak produk dilakukan rekayasa sikap dan perilaku seorang kadindat agar mempunyai daya jual , dan image yang berupa topeng ,santun, berwibawa,jujur, amanah , semua simbul-simbul yang diinginkan masyarakat di tempelkan pada wajah kadindat .
Langka selanjut nya adalah memasarkan maka konsultan marketing mulai banyak menawarkan jasa nya , bak barang dagangan memasarkan seseorang yang telah dipoles dengan berbagai cara ,memasang iklan , membuat acara-acara yang bisa menarik masyarakat
Untuk mengukur elektabilitas apakah seorang kandidat telah berhasil dalam pemasaran nya selanjutnya dilakukan penjajakan yang sering dilakukan dengan survey jajak pendapat ,apa bila hasil jajak pendapat kurang memuaskan maka akan dilakukan berbaikan produk dan mengetahui titik kelemahan selanjut nya perlu ada nya perbaikan .Survey ini juga bisa untuk mengetahui dan mengukur kekuatan-kekuatan produk lain
Ketika proses pencarian pemimpin ini sudah menelan begitu saja yang serba Amerika dan meninggalkan segala system yang telah dibangun oleh pendiri bangsa ,maka pertanyaan besar yang harus dijawab adalah di mana proses pembangunan karakter kebangsaan kita ? dalam system yang dibangun bak proses produksi maka dibutuhkan biaya investasi yang sangat besar ,tentunya dalam produksi dan proses Industrialisasi politik dan demokrasi ini dengan investasi yang basar tidak mungkin investasi itu tidak diharapkan kembali dan untung,maka sering kita melihat ketika seorang yang telah selesai menjabat langka seanjut nya mereka masuk penjarah ditangkap KPK akibat korupsi untuk mengembalikan investasi dalam pemilihan nya sebagai kepala daerah nya.
Fenomena Idustrialisasi politik dan demokrasi dewasa ini telah memerosotkan karakter kebangsaan , dalam perkembangan delapan belas tahun terakhir sejak reformasi digulirkan telah merubah tatanan kebangsaan kita proses politik menelan begitu saja cara-cara Amerika yang dianggap paling baik ,bahkan jauh lebih liberal dari cara-cara Amerika , sementara meninggal kan dan mengubur budaya Pancasila sebagai dasar bernegara.
Dalam Industrialisasi politik dan demokrasi semua kekuatan berebut pengaruh dan berebut kekuasaan. namun, ketika para elite politik itu memperoleh
kekuasaan,tidak jelas apa yang mereka lakukan untuk perbaikan negeri ini.
Kekuasaaan akhirnya hanya menjadi instrumen mengeksploitasi sumber daya untuk kepentingan-kepentingan pragmatis yang berakibat merugikan kepentingan bangsa Indonesia .
Performa negara di era reformasi sekarang cenderung tidak memiliki landasan kokoh untuk membangun negara ber martabat. Proses dan mekanisme politik untuk menjadi pejabat publik pada institusi-institusi negara sarat dengan transaction cost yang tinggi.bahkan sudah menjadi indutrilisasi politik dan demokrasi ,keadaan ini sangat tidak menguntungkan bagi bangsa ini .
Belajar dari sejarah ,salah satu yang dilakukan Bung Karno pada waktu itu dan yang tidak dilakukan oleh Soeharto dan penggantinya samapai pada Jokowi ,adalah melakukan “character and nation building”. Siapa tak bangga pada waktu itu memiliki Presiden Indonesia Bung Karno? Pembangunan karakter bangsa adalah fondasi untuk memperbaiki krisis bangsa. Kalau karakter bangsa sudah rusak maka bangsa itu akan menjadi cemooh bangsa lain, diejek dan diremehkan oleh kekuatan asing. Pembangunan sosial, ekonomi, politik,kebudayaan memerlukan pembangunan karakter bangsa.
Berapa pun besar bantuan luar negeri dikucurkan, berapa pun hutang luar negeri diperoleh, berapa pun tenaga ahli dikirimkan akan sia-sia kalau bangsa Indonesia gagal melakukan “character and nation building”. Yang ada setelah tujuh puluh tiga tahun merdeka, hutang makin membumbung, korupsi makin merajalela, pejabat bisa dibeli, rasa persatuan sebagai bangsa mulai luntur, ke- kerasan antar suku dan antar agama menjamur. Bangsa Indonesia diremehkan dalam percaturan global bahkan menuju kelumpuhan sebagai bangsa semakin tidak berdaya .
Bermula dari Amandemen UUD 1945
Amandemen UUD 1945 telah merusak sistem nilai yang telah dibangaun susah payah ,dan pengorbanan yang begitu besar bukan hanya harta dan darah tetapi juga jutaan nyawa melayang dalam perjuangan mendirikan Indonesia dengan tata nilai yang dibangun atas dasar amanat penderitaan rakyat .Para elit tidak mau mengerti apa yang telah di bangun oleh pendiri negeri ini atas dasar amanat penderitaan rakyat , sehingga kekuasaan yang ada ditangan mereka saat ini tidak menjalankan amanat penderitaan rakyat ,bahkan tidak paham apa itu amanat penderitaan rakyat .
Cuplikan AMANAT PRESIDEN SOEKARNO
PADA ULANG TAHUN PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA, 17 AGUSTUS 1963 DI JAKARTA
Saya berdiri di sini sebagai warganegara Indonesia, sebagai patriot Indonesia, sebagai alat Revolusi Indonesia, sebagai Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, sebagai Pengemban Utama daripada Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia.
Kita semua yang berdiri dan duduk di sini harus merasakan diri kita sebagai pengemban Amanat Penderitaan Rakyat! Saya bertanya, sudahkah engkau semua, hai saudara-saudara!, engkau … engkau … engkau … engkau, sudahkah engkau semua benar-benar mengerti dirimu sebagai Pengemban Amanat Penderitaan Rakyat, benar-benar menyadari dirimu sebagai pengemban Amanat Penderitaan Rakyat, benar-benar menginsyafi dirimu sebagai Pengemban Amanat Penderitaan Rakyat, benar-benar merasakan dirimu, sampai ketulang-tulang-sungsummu, sebagai Pengemban Amanat Penderitaan Rakyat?
Amanat Penderitaan Rakyat, yang menjadi tujuan perjuangan kita, sumber kekuatan dan sumber keridlaan berkorban daaripada perjuangan kita yang maha dahsyat ini? Sekali lagi engkau semua, engkau semua dari Sabang sampai Merauke! , sudahkah engkau semua benar-benar sadar akan hal itu?
“Dari Sabang sampai Merauke”, empat perkataan ini bukanlah sekedar satu rangkaian kata ilmu bumi. “Dari Sabang sampai Merauke” bukanlah sekedar menggambarkan satu geographisch begrip. “Dari Sabang sampai Merauke” bukanlah sekadar satu “geographical entity”. Ia adalah merupakan satu kesatuan kebangsaan. Ia adalah satu “national entity”. Ia adalah pula satu kesatuan kenegaraan, satu “state entity” yang bulat-kuat. Ia adalah satu kesatuan tekad, satu kesatuan ideologis, satu “ideological entity” yang amat dinamis. Ia adalah satu kesatuan cita-cita sosial yang hidup laksana api unggun, satu entity of social-consciousness like a burning fire.
Dan sebagai yang sudah saya katakan dalam pidato-pidato saya yang lalu, social consciousness kita ini adalah bagian daripada social consciousness of man. Revolusi Indonesia adalah kataku tempohari congruent dengan the social conscience of man!
Kesadaran sosial dari Rakyat Indonesia itulah pokok-hakekat daripada Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia. Amanat Penderitaan Rakyat Indonesia itu adalah dus bagian daripada social consciousness of mankind. Dus amanat Penderitaan Rakyat Indonesia adalah bagian daripada Amanat Penderitaan Rakyat daripada seluruh kemanusiaan!
Dus Amanat Penderitaan Rakyat kita bukanlah sekadar satu pengertian atau tuntutan nasional belaka.
Amanat Penderitaan Rakyat kita bukan sekedar satu “hal Indonesia”. Amanat Penderitaan Rakyat kita menjalin kepada Amanat Penderitaan Umat Manusia, Amanat Penderitaan Umat Manusia menjalin kepada Amanat Penderitaan Rakyat kita. Revolusi Indonesia menjalin kepada Revolusi Umat Manusia, Revolusi Umat Manusia menjalin kepada Revolusi Indonesia.
Pernah saya gambarkan hal ini dengan kata-kata: “there is an essential humanity in the Indonesian Revolution”. Pernah pula saya katakan bahwa Revolusi Indonesia mempunyai suara yang “mengumandang sejagad”, yakni bahwa Revolusi Indonesia mempunyai “universal voice”.
Menurut Renan (1823-1892), yang pendapatnya sering dikutip Bung Karno: ” Bangsa hadir karena ada kesamaan nasib dan penderitaan, serta adanya semangat dan tekad untuk berhimpun dalam sebuah “nation”. ….
Bangsa itu ialah suatu solidaritas besar, yang terbentuk karena adanya kesadaran, bahwa orang telah berkorban banyak, dan bersedia untuk memberi korban itu lagi…. Manusia itu bukanlah budak dari keturunannya (ras) atau dari bahasanya, atau dari agamanya, …..
Suatu kumpulan besar manusia, yang sehat jiwanya dan berkobarkobar hatinya, menimbulkan suatu kesadaran batin yang dinamakan bangsa”.Dengan demikian, bangsa hadir bukan dikarenakan adanya kesamaan budaya, suku, ras, etnisitas, agama dan pertimbangan-pertimbangan ikatan primodialisme yang lain, tetapi lebih menekankan pada adanya kesamaan nasib dan keinginan untuk hidup bersama dalam sebuah komunitas bangsa”
Dalam konteks demikian maka dengan perubahan sistem politik dan demokrasi yang telah berubah menjadi industri politik dan demokrasi liberal yang mampu melulu lantakan nilai-nilai berbangsa dan bernegara maka bangsa ini semakin terjebak pada pikiran pikiran yang serba pragmatis ,tanpa bisa lagi berfikir tentang paradigmatika kebangsaan nya.
Indonesia akan menjadi buih ditengah samudra yang tidak mempunyai jangkar karakter kebangsaan nya ,semakin hanyut diombang-ambingkan oleh yang nama nya Globalisasi , tidak lagi mampu berdiri apa lagi berjalan ,sebahagian besar kekayaan ibu pertiwi telah tergadaikan dan dikuasai oleh Asing ,Aseng dan Asu , yang tidak berfikir lagi bagaimana nasib anak cucu bangsa ini .
Tidak ada jalan penyelamat kecuali ada nya kesadaran untuk mengembalikan jati diri bangsa Indonesia Panca Sila dan UUD 1945 Proklamasi /dekrit 5 Juli 1959. Semua tergantung pada hati nurani kita masing-masing apakah kita akan berjuang atau kita punah sebagai bangsa.

Superman bagi Turki ternyata Tetangganya Sendiri.

Written By KUPAS.TV on Sabtu, 18 Agustus 2018 | 22:02

Oleh: Dahlan Iskan

Merdeka!
Dan Turki merdeka juga. Dari krisis moneter yang begitu mencekam.

Merdeka!
Dan Turki berhasil menginjak rem tepat waktu: saat roda ekonominya berada di bibir jurang.

Memang posisi rodanya masih tetap di tebing. Tapi sudah ada superman. Yang menahannya. Untuk tidak terjungkal.

Superman itu tetangganya sendiri: Emir Syeikh Tamim bin Hamal Al Thani. Pemimpin tertinggi Qatar. Negara kecil yang sakunya besar.

Syeikh Tamim datang ke Turki. Rabu lalu. Tepat waktu. Setelah bicara-bicara 3,5 jam semuanya beres: Qatar akan meminjami Turki. Dana besar. Angkanya luar biasa: 15 miliar Dolar. Hampir Rp 200 triliun.

Begitu mendapat obat penurun panas dari Qatar itu, suhu Lira turun. Mata uang Turki itu langsung menguat. Tiga hari terakhir sudah menguat 17 persen.

Memang belum bisa kembali seperti tahun lalu: 1 Dolar 4 Lira. Tapi kemarin 1 Dolar sudah 5,9 Lira. Tidak lagi 7 Lira. Krisis sudah bisa dihindari.

Betapa bahagia punya tetangga sebaik Qatar. Mau membantu. Dengan cepat. Dengan dana besar. Bahkan sang Emir yang datang sendiri ke Turki.

Tetangga mulia macam apa Qatar itu. Begitu terharu saya mencermatinya.

Mengingatkan saya pada tahun 1997/98. Saat kita dilanda krisis moneter. Yang luar biasa. Yang berlarut-larut. Menjadi krisis politik. Krisis rasial. Soeharto jatuh. Kepercayaan nasional runtuh.

Kalau saja tetangga kita seperti Qatar. Kalau saja ada yang mengulurkan tangan. Kerusuhan sosial tidak sampai terjadi.

Saya tidak bisa bayangkan. Betapa ‘nelongso’-nya Pak Harto saat itu. Minta bantuan ke tetangga kaya. Hanya dapat nasihat kata-kata.
Terpaksa Pak Harto ngemis ke IMF. Yang menyakitkan itu.

Qatar memang pernah merasakan budi baik Turki. Belum lama ini. Saat Qatar dikucilkan oleh negara-negara sesama Arab. Tetangga yang mengitarinya.

Saat itu Turki mendukung Qatar. Ketika negara-negara Arab melarang kirim barang ke Qatar, Turki turun tangan. Qatar bisa bertahan. Sampai hari ini. Di tengah isolasi.

Begitu marahnya pada Qatar, Arab Saudi sampai akan menggali daratannya. Yang berbatasan dengan Qatar. Selebar 200 meter. Sepanjang 200 km. Menjadi laut pemisah dua negara.
Qatar tidak menyerah. Tidak mau tunduk. Boikot Arab Saudi tidak sakti.

Dengan turunnya Superman itu Presiden Erdogan tidak perlu ngemis ke IMF. Martabatnya tidak perlu jatuh.

Bahkan Turki tetap bisa mempertahankan ideologi ekonominya: anti bunga tinggi. Yang dianggap sebagai ibu segala setan ekonomi.

Hanya saja Turki menerima saran ini: mengurangi defisit anggaran. Dengan cara mengurangi pengeluaran. Membatalkan proyek.
Tiap departemen diminta berhemat. Potong anggaran. Antara 20 sampai 30 persen.

Memang, pertumbuhan ekonomi Turki akan melambat. Tapi akan bisa lebih berkelanjutan. Daripada crash. Toh sudah 10 tahun Turki berhasil tumbuh cepat. Sampai pendapatan perkapitanya sangat tinggi: 17 ribu USD. Enam kali lipat lebih makmur dari kita.

Amerika masih terus berkoar. Akan meningkatkan lagi sanksi untuk Turki. Katanya: terbukti Turki bukan sahabat baik. Tidak mau membebaskan pastor Andrew Brunson. Asal Amerika. Yang kini ditahan di sebuah rumah, di Turki.
Tiongkok mungkin akan jadi Superman kedua. Bagi Turki. Untuk menambah dana Qatar itu.

Ternyata punya tetangga baik itu membahagiakan. Baik dan kaya. Kaya dan baik. (dahlan iskan)

Hanya karena telat 30 menit, harus bayar Rp 100 miliar

Written By KUPAS.TV on Jumat, 17 Agustus 2018 | 07:15

Tit-For-Tat Setelah Telat 30 Menit

Oleh: Dahlan Iskan

Hanya karena telat 30 menit. Harus bayar Rp 100 miliar. Betapa mahal perang dagang ini. Antara Amerika dan Tiongkok sekarang ini.

Yang telat itu kapal raksasa: The Peak Pegasus. Yang memuat kedelai. Satu kapal penuh. Seharga hampir Rp 500 miliar.

Kapal itu berlayar dari pelabuhan Seattle. Di negara bagian Washington. Tujuannya: pelabuhan Dalian. Di Tiongkok. Posisi dua pelabuhan itu berhadapan. Dipisahkan samudera Pasifik.

Ketika The Peak Pegasus tiba di Dalian jam menunjukkan pukul 00.30. Tanggal 6 Juli 2018.

Setengah jam sebelumnya Amerika mulai memberlakukan perang dagangnya: mengenakan tarif 25 persen pada baja dan alumunium dari Tiongkok. Dan beberapa komoditi lain.

Tiongkok membalas. Pada jam yang sama. Mulai mengenakan tarif baru bagi kedelai Amerika. Sebesar 25 persen.

The Peak Pegasus tidak boleh merapat ke pelabuhan Dalian. Kecuali sudah membayar bea masuk baru. Perdebatan terjadi. Tapi tidak ada jalan keluar.

Sejak awal Tiongkok memang sudah mengumumkan: akan selalu membalas serangan Amerika. Untuk nilai yang sama. Waktu yang sama. Hanya komoditinya yang berbeda.

Amerika memilih menghukum  baja Tiongkok. Yang bisa memukul telak ekonomi negeri panda.

Tiongkok memilih kedelai Amerika. Yang bisa menyulitkan posisi Trump di mata petani: basis pemilihnya.
Belum pernah ada perang dagang seseru ini. Tiongkok benar-benar menjalankan tit-for-tat. Mata dibalas dengan mata. Tangan dibalas dengan tangan.

Kini Trump terlihat sering pakai topi hijau. Dengan tulisan: make farmer great again. Menunjukkan solidaritasnya pada petani. Termasuk menganggarkan subsidi petani. Sebesar Usd 12 miliar.
The Peak Pegasus kelimpungan.

Di atas laut. Tiap malam awak kapalnya bisa melihat gemerlap cahaya kota Dalian (baca: Ta-li-en). Yang cantik itu. Kota 大连 adalah pusat bisnis konglomerat Wanda. Yang iklannya menguasai stadion-stadion Rusia. Saat piala dunia lalu.

Sampai setengah bulan kemudian belum ada jalan keluar. The Peak Pegasus masih mengapung di kejauhan.
Saya tidak bisa membayangkan: betapa mahal sewa kapal itu. Juga betapa sulitnya negosiasi.
Kalau bayar bea masuk, rugi. Tidak cocok dengan hitung dagang.

Kalau mau dibawa balik ke Seattle tambah rugi.
Cari pembeli lain di negara lain juga tidak mudah.

Ditahan lebih lama kedelainya rusak. Atau mutunya turun.
Sampai sebulan kemudian masih belum ada jalan keluar.
Trump lebih sering lagi pakai topi hijau.

Tiongkok teguh dengan prinsip tit-for-tat. Bea masuk baru itu akhirnya harus dibayar. Ini pilihan yang ruginya paling kecil. Dibanding pilihan lain tadi.

Gara-gara telat hanya 30 menit. Kerugiannya ratusan miliar.

Trump kini mengancam lagi: memperluas cakupan komoditi. Tiongkok membalas dengan tit-for-tat.

Amerika menambah permainan: memberi angin pada Taiwan. Amerika tahu soal Taiwan ini sensitif. Tiongkok bisa tiba-tiba emosi.

Dua hari lalu Amerika memberi panggung pada Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen. Boleh dua hari singgah di daratan Amerika. Dalam perjalanannya ke Paraguay dan Belize. Dua dari hanya 18 negara yang masih mengakui Taiwan sebagai negara.

Di Los Angeles Tsai Ing-wen mengunjungi perpustakaan Ronald Reagan. Dan berpidato. Menguraikan perjuangannya. Untuk membuat Taiwan negara merdeka.

Tiongkok protes. Dan terus berlatih militer. Menghadapi situasi tersulit.

The Peak Pegasus pagi ini masih terlihat sandar di dermaga pelabuhan Dalian. Entah sudah bongkar muatan atau belum.

Untung ada Google. Para wartawan terus mengarahkan kamera ke pelabuhan itu. Salah satu pelabuhan alam terbaik di dunia: kedalaman draftnya 30 meter.

Perkembangan perang ini kian serius. Belum ada pertanda-pertanda. Untuk maju ke meja perundingan.

Harga meja tampaknya terlalu mahal sekarang ini. Belum lagi termasuk bawahnya. (dahlan iskan)

Surat Untuk Megawati Soekarno Putri

KEPADA
YTH
Ibu Megawati Soekarno Putri.

1. Dulu kau jual satelit negara kami ke Singapura melalui 'Indosat' dengan murah. Sehingga kita dimata-matai negara tetangga & saat ini Freqwesi Indonesia bermasalah....!!!
Sudah Lupakah..?!?

2. Kau jual aset-aset kami yang dikelola BPPN (hanya 30% nilainya) ke Asing, dan kau dapat komisi yang besar tentunya.
Sudah Lupa...?!?

3. Dulu kau jual kapal tanker VLCC Pertamina, lalu Pertamina kau paksa sewa kapal VLCC lagi, kau UNTUNG dan Kami Rakyat Indonesia RUGI SANGAT BESAR...!!!
Sudah Lupa...?!?

4. Dulu kau jual gas Tangguh dengan murah (banting harga) ke China (hanya $3 per mmbtu), sekarang kau teriak-teriak selamatkan Migas...!!!!
Sudah Lupa...?!?

5. Dulu kau buat UU Outsourching yang merugikan kaum buruh wong cilik, (jika anda termasuk pekerja outsourching anda adalah korban kebijakan Megawati), Sekarang kau koar-koar atas nama buruh wong cilik...!!!!
Sudah lupa..???

6. Dulu kau berikan SP3 dan SKL, Release dan discharge untuk bandit-bandit dan Rampok BLBI pencuri uang rakyat...!!!
Pastinya kau Tidak Lupa.

7. Sekarang, Kau ngomong lagi soal nasionalisme, Setelah kader-kader kau banyak yang korup...!!!
Susah Lupa....

8. Dan sekarang, Untuk mengkatrol suaramu yang terpuruk, Kini kau umpankan & kau bela Si "Kotak-Kotak" !!!

9. Dulu kau berhutang Triliunan rupiah hanya untuk menyelamatkan 'bandit perampok Negara', Sekarang kau juga didukung bandit-bandit untuk naikan Capres mu.

10. Dulu kau ngambek karena tidak menang lawan SBY, Sekarang kau jumawa dan sombong meski belum menang.
Lupa juga...???

12. Ada yang ketinggalan, bapakmu Soekarno Merebut Papua Barat, Soeharto Merebut Timor-Timor, tapi kau malah MELEPAS Pulau Sipadan dan Ligitan.
Sudah lupa...???

13. Sakit Hatinya kami kau jual ke 60 cukong demi. Si 'kotak-kotak' yang kau jadikan 'UMPAN' demi kekuasaan mu.

14. Dan sekarang sudah jelas si "kotak-kotak" itu MELANGGAR HUKUM INDONESIA, sudah jelas PENISTA AGAMA, tapi engkau masih tetap membelanya, engkau masih tetap mendukungnya...
Kenapa..??
Apakah masih pantas meminta dukungan kami yang hanya rakyat kecil & yg hanya dibutuhkan ketika masa pemilihan saja UNTUK MEMILIH partai mu dalam pemilihan nanti...?

Jika anda perduli sama negara ini, silahkan share sebanyak-banyaknya...

Repost:
https://m.facebook.com/AksiMahasiswaRakyatBersatu/photos/a.752417731539859.1073741829.751353971646235/1223143677800593/?type=3

Mahfud MD beberkan Kasus Kardus Durian Cak Imin di ILC

* Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.

Kasus ‘kardus durian’ yang diduga melibatkan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar kembali mencuat, setelah mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD bercerita pernah dihubungi Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj untuk membantu menyelamatkan seorang menteri yang diduga terlibat dalam kasus kardus durian.

Pernyataan Mahfud disampaikan di acara Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa (14/8/2018). Mahfud ingat saat dirinya berada di Mekah. Waktu itu, KPK sedang gencar mengusut perkara suap di lingkungan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, dimana Muhaimin Iskandar alias Cak Imin merupakan menterinya. Uang suap tersebut ditempatkan di sebuah kardus durian, maka munculah istilah kasus suap durian.

“Waktu adanya kasus seorang menteri itu terlibat kasus durian, saya ada di Mekah. Pagi-pagi subuh, Aqil Siradj telepon, ‘Pak Mahfud Pak Mahfud Tolong, sesama kader NU tolong ini diselamatkan, nanti NU bisa rusak ini kalau kena’,” kata Mahfud menirukan ucapan Said Aqil.

“Begitu ada kasus politik begini, lalu bilang bukan kader,” tambah Mahfud.

Kasus kardus durian memang menarik karena mengingatkan kembali peristiwa Operasi Tangkap Tangan (OTT) pada 25 Agustus 2011. Saat itu, penyidik KPK menangkap dua anak buah Cak Imin, Sekretaris Direktorat Jenderal Pembinaan Pengembangan Kawasan Transmigrasi, I Nyoman Suisnaya dan Kepala Bagian Perencanaan dan Evaluasi Program Kemenakertrans, Dadong Irbarelawan.

Selain menangkap dua anak buah Cak Imin ketika itu, KPK juga menangkap Kuasa Direksi PT Alam Jaya Papua, Dharnawati yang baru saja mengantarkan uang Rp1,5 miliar ke kantor Kemenakertrans. Uang itu dibungkus menggunakan kardus durian.

Uang tersebut merupakan tanda terima kasih karena PT Alam Jaya Papua, karena diloloskan sebagai kontraktor
Dana Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah (DPPID) di Kabupaten Keerom, Manokwari, dan Mimika, serta Teluk Wondama dengan nilai proyek Rp73 miliar.

Pengusaha Iskandar Pasojo alias Acos pernah memberi kesaksian bahwa Dani Nawawi, orang yang mengaku sebagai staf khusus presiden, pernah meminta uang kepadanya atas nama Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar. Uang itu sebagai commitment fee lolosnya empat kabupaten di Papua menerima DPPID.

“Ada permintaan dari Menteri,” ujar Acos mengutip perkataan Dani dalam sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Acos dihadirkan sebagai saksi untuk terdakwa I Nyoman Suisnaya, Sekretaris Jenderal Direktorat Pembinaan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi, Kamis (2/2/2012).

Acos menyebut Dani bertugas menjadi penghubung antara pengusaha dan pihak Kementerian Transmigrasi. Dialah yang mempertemukan kuasa direksi PT Alam Jaya Papua, Dharnawati alias Nana (kini terpidana), dengan terdakwa Nyoman Suisnaya serta Kepala Bagian Evaluasi dan Perencanaan Dadong Irbarelawan.

Kepada majelis hakim, Acos mengungkapkan, permintaan fee dari Dani itu disampaikan di ruangan kerja Nyoman Suisnaya. Ia tak menyebutkan kapan peristiwa itu terjadi. “Uangnya (untuk Menteri Muhaimin) diserahkan ke Nyoman saja,” ujar Dani seperti ditirukan Acos. (Albar)

BERAKHIRNYA MITOS "WONG NDESO": CATATAN KECIL TENTANG PENGAKUAN MAHFUDZ MD DI ILC (14/8/2018)

Saya ingin melanjutkan analisa Rocky Gerung soal Jokowi. Sebenarnya, PHP terhadap Prof. Mahfudz MD ini bukanlah sekedar perkara immoralitas dan kelemahan Jokowi sebagai presiden, namun lebih jauh lagi, pengakuan Prof. Mahfudz MD telah membuka kedok Jokowi sebagai "wong ndeso".
-
Mitos yang dibangun para pendukungnya selama ini, Jokowi adalah "wong ndeso" (orang desa), dalam arti "sederhana" dan "apa adanya". Bagi para oposan, "wong ndeso" ini diartikan dengan agak kasar, "plonga-plongo". Tapi, sorry to say, cerita Prof. Mahfudz MD semalam membuat kita harus mengakui narasi kasar oposan itulah yang tepat! Plonga-plongo, sebuah keadaan dimana seseorang tidak memahami situasi tertentu dan sangat membutuhkan bimbingan orang lain. 
-
Timses sejak awal menutupi segala kekurangan Jokowi yang bersumber dari keplonga-plongoan beliau dengan narasi-narasi hiperbolik. Contoh yang paling menggelikan adalah, "dapat wahyu dari Tuhan", "Jokowi mirip Umar bin Khatab" dan "Jokowi mirip Nabi Ayub". Tujuannya tidak sekedar menutupi kekurangan, namun menciptakan fanatisme terhadap Jokowi agar kritisisme terhambat, dan perbuatan jahat sekelompok orang dapat disembunyikan.
-
Dengan disandingkannya jokowi dengan orang-orang suci setara Nabi dan Sahabat, maka terciptalah fantasi di benak masyarakat bahwa banyaknya koalisi parpol yang merapat, disebabkan karena kehebatan Jokowi. Itu mitos nya!
-
Padahal, jika kita dengarkan baik-baik pemaparan Prof.Mahfudz MD semalam, mudah disimpulkan bahwa Jokowi adalah presiden yang lemah, dan selama ini dikendalikan oleh parpol koalisi. Jadi, yang terjadi sebenarnya, banyak parpol-parpol merapat karena ingin mengendalikan Jokowi. Saat ini, dia bukan lagi petugas partai PDI-P, namun petugas Partai Koalisi.
-
Inilah kejahatannya, begal politik! Modusnya adalah mematikan nalar masyarakat dengan menciptakan fantasi "wong ndeso" yang jujur dan apa adanya seperti para Nabi, sehingga mereka dengan bebas bisa mengendalikan kekuasaan dengan tangan presiden.
-
Kesan culas bak begal itu diceritakan oleh Prof.Mahfudz MD, bagaimana ormas Islam yang menjunjung tinggi moral saja bisa loose temper sampai mengancam-ancam segala. Saya membayangkan, keculasan yang terjadi di internal parpol koalisi yang bukan ormas keagamaan. Saya yakin lebih dahsyat!
-
Apakah Jokowi nyaman diatur-atur demikian? Saya yakin nyaman! Ditelisik dari sudut pandang psikologi kepribadian, Jokowi mungkin seorang yang submisif. Submisif adalah istilah kepribadian orang yang sangat membutuhkan petunjuk orang lain dalam hidupnya. Dia akan merasa nyaman jika ada yang mengaturnya, dan merasa kebingungan jika dibiarkan berinisiatif. Bahasa sehari-harinya, "manutan". Bahasa politiknya, ya "plonga-plongo" itu tadi!
-
Bagaimana tidak, nalar dan moral masyarakat sangat terganggu ketika Presiden dikatakan "petugas partai". Saat itu, partai yang dimaksud adalah PDI-P. Jika Presiden adalah petugas partai PDI-P, maka Indonesia adalah bagian dari PDI-P! Bukankah seharusnya semua partai itu adalah bagian dari Indonesia? Di sinilah nalar masyarakat dihina! Secara moral, presiden yang petugas partai itu bertanggung jawab kepada partainya, padahal dia dilipih langsung oleh rakyat. Seharusnya dia bertanggung jawab kepada rakyat! Di sinilah immoralitas-nya.
-
Tapi dalam situasi demikian, Jokowi justru terlihat nyaman. Beberapa kali konferensi pers, ketika ditanya tentang sesuatu yang krusial, contohnya soal wapres, beliau menjawab dengan tersenyum "terserah Bu Mega". Seharusnya sebagai pemimpin tertinggi RI, dia punya harga diri yang tinggi! Malu diatur-atur oleh parpol! Paling tidak, tunjukkan lah kesan tidak suka ketika disebut petugas parpol. Harga diri ini pernah ditunjukkan secara gagah oleh GusDur ketika dipaksa partai koalisi bagi-bagi jabatan mentri! Beliau menolak, karena itu hak prerogatif presiden, katanya. Padahal GusDur yang memilih adalah parpol, bukan rakyat. Tapi itulah yang namanya harga diri. Seharusnya melekat pada jabatan. Dan karena itulah GusDur dilengserkan.
-
Tapi Jokowi tidak memiliki itu. Kesadaran Jokowi bukan presiden, tapi petugas partai, jadi tidak mungkin kita mengharapkan self-esteem yang tinggi di hadapan parpol, apalagi dihadapan pemimpin negara lain.
-
Jadi, pernyataan Prof.Mahfudz MD menunjukkan makna "wong ndeso" yang disembunyikan selama ini. "wong ndeso" bukan lah orang yang jujur, sehingga perilakunya berani seperti sayyidina Umar. Bukan juga orang yang sabar dan apa adanya seperti Nabi Ayyub. Tapi "wong ndeso" dibongkar oleh Prof.Mahfudz MD sebagai "plonga plongo". Seperti ejekan "ndeso" kepada orang yang tidak tahu apa-apa dan mudah dipermainkan orang lain.
-
Prof.Mahfudz MD bukan orang bodoh, beliau paham betul kalau koalisi Jokowi sangat memuja elektabilitas. Prof. Mahfudz pun tahu, pengakuannya di ILC akan menghancurkan elektabilitas Jokowi. Lalu kenapa beliau lakukan itu? Bagi saya, inilah cara orang pintar membalas penghinaan terhadap dirinya.
-
Selamat berjuang 100 jurkamnas Jokowi, kalian punya tugas berat sekarang!

cc: Achmad M. AkungCopas

Yusril Abstein pada Pilpres 2019

*Tatakrama Politik dan Konstitusi Dibalik Pernyataan Yusril tentang Sementara Abstain Dukungan ke Capres 2019*

Beberapa pihak cukup terkejut oleh pernyataan ketua Partai Bulan Bintang Prof Yusril Ihza Mahendra tentang sementara abstainnya Partai PBB dalam dukung mendukung capres 2019, tak terkecuali rasa heran dari hampir semua kader PBB sendiri yang dari awal sangat yakin sang ketua gerbong PBB ini tanpa diminta otomatis pasti akan dukung capres Prabowo yang telah lama diproyeksikan sebagai manifesto final dari perjuangan konstitusional #GantiPresiden2019.. Semua orang sungguh bertanya, dimana PBB saat pendaftaran Prabowo-Sandi ke KPU kemarin..??

Ada rasa kaget, heran dan bahkan kecewa akan itu karena PBB sudah diendorse, digadang2 jadi Rising Star di antara 4 parpol di blok oposisi pada Pileg 2019 sebelum Berkarya dan Demokrat join, ini dicap akan kontraproduktif bagi partai..

Namun sesungguhnya secara cepat atau pun mendalam dibalik pernyataan Yusril sebenarnya semua harus diartikan dalam perpektif yg lebih bijaksana, tentu ada alasan teknis dan makna tersirat, tentu juga akan butuh kejelian dan kemampuan membuang sindrom 'baper politik' kita semua untuk bisa ke sana..

*Perihal 1*
Yusril mengajak PBB untuk realistis dan tahu diri tentang posisinya sekarang, PBB sedang tidak punya kursi di parlemen pusat, secara konstitusional memang tidak bisa ikut mengusung capres, dukungan hanya akan bersifat moril dan informal, sebuah kontrak koalisi tanpa kontribusi tiket ke KPU sama artinya hanya dengan menumpang menang walau resiko teknisnya juga adalah tidak bisa ikut pemilu mendatang.. ini sebuah sopansantun politik yang sekarang jarang ditemui, kita lihat banyak pihak yang hanya hanyut kemana arus membawa atau kemana kekuasaan akan bersandar. Secara extrim kita sudah lihat partai2 pro rejim yang begitu mudah menyerahkan diri dan lupa amanat awal dari rakyat yang ironis juga diakui luas makin sulit saja hidupnya hari ini..

*Perihal 2*
PBB masih sibuk berjuang bertahan dan mengkonsolidasi dirinya untuk persiapan pemilu pileg 2019, sudah beberapa kali PBB hampir hilang dari daftar kontestan pemilu, Yusril berjuang sendirian dan PBB lolos, sampai saat terakhirpun dari 80 dapil hanya 56 yang diloloskan KPU sementara tenggat waktu hanya tinggal beberapa hari, dan kembali Yusril juga berjuang sendiri, ini belum termasuk unsur kewalahan di internal partai menampung kader baru dan ribuan caleg yang animonya begitu tinggi ingin masuk ke PBB karena beberapa alasan kuat, ini semua memerlukan mental dan endurance yang kuat dari seorang ketua parpol yang memiliki logistik dan sdm supporting yg masih sangat terbatas...

*Perihal 3*
Kembali soal adat dan tatakrama, ini penjelasannya, Yusril adalah Melayu asli, neneknya juga orang Batangtabik Payakumbuh Minangkabau, dalam adat tinggi Minang atau pun Melayu, kalau orang tak menawarkan atau mengundang masuk jangan dulu masuk, ambil posisi dan ikut makan di rumah begitu saja walau sudah banyak teman yang masuk.. Guru hidup Yusril adalah Natsir, seorang yang 'punya adat' dan dikagumi oleh Soekarno karena Natsir tidak butuh kekuasaan, bukan dalam arti tinggi hati tapi kekuasaan dalam kacamatanya adalah amanat yang amat berat sampai ke akhirat, ini juga diamini oleh Bung Hatta, Agus Salim dan Syahrir ... Tatakrama dan adat malu menyelonong ini sudah lama sekali hilang dari bangsa kita, semua orang maunya serba cepat capai tujuan, jangankan menunggu diundang, dicegah atau bukan haknya pun tetap nekat mendobrak atau mencuri masuk.. dan akhirnya semua tatanan hidup jadi rusak.. mulai dari pribadi, keluarga dan berbangsa.. nafsu dan birahi sudah jadi panglima jahat hari ini...

Apa Yusril ingin berkhianat, berkecil hati atau merajuk? Tentu harusnya tidak.. Dari semua yang kita ikuti sepanjang waktu, kita masih yakin penuh Yusril adalah tokoh yang paling ingin perbaikan dan penyelamatan bagi negri ini, Yusril adalah pembela kebenaran dengan jalur konstitusi dan segala kemampuannya yang sulit ditandingi individu lain di republik ini, visinya tentu pasti sama dengan negarawan lain yang masih tersisa sedikit sekali di tanah air, juga sudah berkali kali Yusril turun tangan membela yang tertindas dan melawan lingkaran penguasa secara solitaire tanpa banyak2 bicara, terakhir adalah membela korban gusuran Ahok di beberapa lokasi seperti Luarbatang, Kampung Akuarium dan Kalibata.. Ketika buah perjuangan Yusril melawan penguasa Jakarta itu akhirnya dikendarai begitu saja oleh pihak lain Yusril juga sangat sabar dan legawa..

Yusril akan tetap seorang Yusril, sosok maskulin, independen dan sulit untuk diragukan kredibilitasnya, dia juga bukan seorang pengekor, atau mau duduk dan masuk begitu saja ke lingkaran meja atau masuk rumah orang tanpa diundang.. Dalam banyak kepala yang semua sudah penuh alam pragmatis dan instant hal ini memang akan terdengar amat aneh, absurd bahkan mengada ada, sama anehnya ketika Hatta menolak kembali jadi wakil Soekarno karena hanya merasa telah gagal dalam misi suci kebangsaaanya,, inilah sifat maskulin Negarawan Melayu Minang yang masih tersisa... Semoga Tuan semua masih berkenan menerimanya..

(Joni A Koto, 11 Agustus 2018)

Saling Sindir Pasangan Capres - Cawapres

Written By Bagja Su on Senin, 13 Agustus 2018 | 13:04

Dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden telah mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pilpres 2019. Kedua pasangan capres yakni Joko 'Jokowi' Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno pun semakin mematangkan persiapan.Kubu Jokowi-Ma'ruf didukung sembilan partai politik yakni PDIP, Partai Golkar, Partai Nasdem, PKB, PPP, PSI, PKPI, Perindo, dan Partai Hanura. Sedangkan, Prabowo-Sandi didukung empat partai politik yakni Partai Gerindra, PAN, PKS, dan Partai Demokrat.
Tak hanya mematangkan tim pemenangan, kedua kubu juga kini mulai saling menyindir, hingga menjadi perbincangan di tengah masyarakat serta dunia maya.

1. 'Jebakan Batman'

Saling Sindir Kubu Jokowi vs Prabowo Pasca-Pendaftaran CapresANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Pernyataan mengenai ‘jebakan Batman’ pertama kali dilontarkan politikus PAN kepada kubu Jokowi. Menurut PAN, Jokowi dan partai koalisinya terkena jebakan Batman karena memilih Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden mendampingi Jokowi.
Kubu Jokowi lantas menepis ungkapan dari PAN tersebut. Menurut kubu koalisi Jokowi, sang petahana selalu mengingatkan partai koalisinya untuk berpolitik dengan santun dan tidak menjebak siapapun.

2. Tidak menghargai Ij’tima ulama

Saling Sindir Kubu Jokowi vs Prabowo Pasca-Pendaftaran CapresFacebook/SandiSUno
Isu yang satu ini datang dari pendamping Jokowi dalam perhelatan Pilpres 2019, Ma’ruf Amin. Calon wakil presiden Jokowi ini menyindir kubu Prabowo.
Ma’ruf menyebut kubu Prabowo sebagai pihak yang mengklaim menghargai ulama, namun tidak mendengarkan ij’tima ulama. Lalu, kubu Prabowo menganggap ucapan Ma'ruf memanas-manasi dan menyindir kubu Prabowo.

3. Mendadak santri

Saling Sindir Kubu Jokowi vs Prabowo Pasca-Pendaftaran Capres
Dalam satu kesempatan diskusi bersama, Wakil Ketua Umum PPP Arwani Thomafi diinformasikan menjadi orang pertama yang mengeluarkan sindiran ke kubu Prabowo. Sindiran ini ditujukan untuk calon wakil presiden pendamping Prabowo, Sandiaga.
Arwani menyindir Sandiaga seolah mendadak jadi santri. Bahkan, dia menyebutkan istilah santri post-millennial untuk Sandiaga. Sebab, menurut dia, Sandi sejatinya bukan sosok santri, tapi dipaksa menjadi santri.
Ucapan Arwani sejatinya untuk menyindir pernyataan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sohibul Iman, yang sebelumnya lebih dulu menyebut istilah santri era post-Islamisme untuk mantan wakil gubernur DKI Jakarta tersebut.
Waduh... baru pendaftaran capres-cawapres saja politik sudah memanas ya guys. Bagaimana nanti pas kampanye Pilpres 2019?

 
Support : KUPAS.CO | PT. Telematika Indonusa
Copyright © 2011. KUPAS.CO - All Rights Reserved
Gedung Dewan Pers Lt.5 AWPI Jl. Kebon Sirih No. 32-34 Jakarta Pusat
Telp. (021) 2951 7417 Fax : 021 2120 3425 WA : 0811 175 798 Email : redaksi@kupas.co.id